Jejak Doa yang Terkubur di Makkah

Hujan mengguyur Jakarta malam itu, seakan ikut berduka bersama hati Dimas. Dua tahun terakhir hidupnya porak-poranda. Pandemi merenggut ibunya. Perceraiannya menyusul hanya beberapa bulan kemudian. Dan usaha yang ia rintis sejak muda runtuh tanpa bisa diselamatkan. Dimas kehilangan segalanya. Ia jatuh terlalu dalam, hingga lupa rasanya percaya pada harapan.

Suatu sore ia membaca kembali pesan terakhir dari ibunya. Pesan sederhana tentang ajakan ke Tanah Suci, tentang mimpi kecil sang ibu untuk bisa melihat Ka’bah sebelum meninggal. Pesan itu tidak pernah sempat diwujudkan. Dan setiap membacanya, Dimas merasakan penyesalan yang membuat dada terasa sesak.

Hari itu ia memutuskan sesuatu, keputusan yang terasa berat namun tepat. Ia harus pergi ke Tanah Suci. Ia harus memohon ampun dan memohon kesempatan baru. Ia membeli tiket, mengurus dokumen, mengatur semua sendiri tanpa rombongan apa pun. Ia ingin benar-benar menghadap hanya sebagai seorang hamba, tanpa bimbingan siapa-siapa, agar ia bisa menghadapi hidup apa adanya.

Perjalanan panjang itu dimulai dari bandara Soekarno-Hatta. Dimas berjalan pelan menuju boarding gate. Ia tidak membawa banyak barang, tetapi perasaannya lebih berat daripada koper besar. Ia tidak tahu apa yang menantinya di sana. Ia hanya tahu ia harus pergi.

Ketika pesawat akhirnya mendarat di Jeddah, ia merasakan sesuatu turun dari pundaknya. Entah apa itu, tetapi ia merasa sedikit lebih ringan. Perjalanan ke Makkah ditempuh dengan bus malam hari. Lampu jalan membentang seperti garis panjang yang seakan membawa setiap manusia ke satu titik kebenaran yang sama.

Dimas tiba di Masjidil Haram menjelang Subuh. Ia berhenti tepat di pintu masuk, memandangi Ka’bah dari kejauhan. Air matanya mengalir tanpa suara. Ia merasa kecil, sangat kecil, tetapi untuk pertama kalinya dalam waktu lama, ia tidak merasa sendirian.

Saat langkahnya mendekat ke Ka’bah, lututnya gemetar. Ia memulai tawaf dengan hati penuh luka. Dalam putaran pertama, ia mengingat ibunya. Sosok yang selalu mendukungnya bahkan ketika seluruh dunia seakan memusuhinya. Ia berbisik lirih, “Bu, maafkan aku.”

Putaran kedua membawa ingatannya pada pernikahannya. Betapa ia sibuk mengejar ambisi hingga lupa bahwa seseorang di rumah menunggunya untuk sekadar duduk bersama dan bercerita. Ia menangis tanpa bisa menahan diri. Bukan karena orang lain telah melukainya, tetapi karena ia telah melukai banyak hati tanpa ia sadari.

Putaran ketiga, keempat, kelima, keenam, semuanya terasa seperti menyeret masa lalu ke permukaan. Dan pada putaran ketujuh, ia berhenti sejenak, meletakkan tangan di dadanya yang terasa sesak, dan berkata pelan, “Ya Allah, aku tidak bisa lagi hidup seperti ini.”

Malam itu ia pulang ke hotel dengan tubuh lelah, mata bengkak, dan hati yang baru pertama kalinya terasa lega. Untuk pertama kalinya ia membiarkan dirinya menangis sepenuh-penuhnya dan itu justru membebaskannya.

Beberapa hari berikutnya ia habiskan untuk berdoa dan merenung. Ia mulai belajar bahwa menerima takdir bukan berarti menyerah, tetapi mempercayai rencana Allah سبحانه وتعالى yang lebih besar dari apa pun yang ia pahami. Ia belajar bahwa kedukaan bukan hukuman, tetapi pengingat agar ia kembali.

Dimas tidak hanya merasakan perubahan spiritual, tapi juga perubahan cara pandang. Ketika menunaikan ibadah tanpa rombongan, ia benar-benar belajar mengandalkan Allah سبحانه وتعالى dalam segala hal. Mencari rute, mengatur jadwal salat, menahan diri dari emosi, menenangkan hati ketika panik. Dari situ ia menemukan makna dari perjalanan umroh mandiri, bukan sekadar tentang bepergian sendirian, tetapi juga tentang menyembuhkan diri tanpa menyalahkan siapa pun dan tanpa mencari pelarian.

Perjalanan ke Madinah menjadi titik yang paling menyentuh. Saat ia duduk di pelataran Masjid Nabawi menjelang senja, langit terlihat merah muda lembut, dan udara terasa sangat tenang. Ia berdoa dengan suara hampir tak terdengar. “Ya Allah, jika Engkau masih mengizinkan aku hidup, bimbing aku untuk tidak lagi menghancurkan diri sendiri.”

Setelah beberapa hari, waktunya pulang tiba. Tidak ada yang berubah secara fisik. Ia masih orang yang sama. Tetapi orang-orang yang menjemputnya di bandara merasakan sesuatu berbeda. Wajahnya terlihat damai. Tatapannya lebih lembut. Dan senyumnya menyimpan sesuatu yang baru: ketulusan.

Dimas mulai memperbaiki hubungan dengan mantan istrinya. Tidak untuk rujuk, tetapi agar luka tidak menjadi warisan. Ia mulai mengunjungi panti asuhan tempat ibunya dulu sering bersedekah. Ia mulai membuka usaha kecil lagi, namun kali ini tanpa ambisi berlebihan, hanya dengan niat hidup bermanfaat.

Semua itu tidak terjadi karena ia menjadi sempurna. Justru karena ia menerima ketidaksempurnaannya.

Kadang seseorang perlu kehilangan segalanya untuk menemukan satu hal: arah pulang.

Dan bagi sebagian orang, arah pulang itu adalah Tanah Suci.

Leave a comment