Bukan Sekadar Trip Bareng, Ini Cerita Umroh yang Mengubah Hidup Kami

Bab 1: Awal dari Sebuah Ajakan

Photo by KOFS 24 on Pexels

“Geng, gue baru baca artikel tentang biaya umroh untuk anak muda. Ternyata nggak semahal yang gue kira!” ujar Naufal sambil menatap teman-temannya di meja kafe.
Rey, si gamer yang jarang serius, langsung nyeletuk, “Serius lo? Umroh tuh buat orang tua, bukan buat bocah kayak kita.”

Tapi malam itu, suasana berubah. Di tengah obrolan santai tentang kerjaan, game, dan drama kehidupan, tiba-tiba topik umroh jadi pembicaraan hangat.
“Bayangin deh, kita berlima umroh bareng. Healing-nya beda level!” kata Hana, satu-satunya cewek di geng mereka yang paling sering ngajak ngaji online.

Semua tertawa — tapi benih niat itu sudah tertanam.

Bab 2: Dari Candaan Jadi Keseriusan

Hari-hari berikutnya, grup WhatsApp “Geng Hijrah” mulai aktif lagi.
Bukan lagi soal nonton bareng atau rencana liburan, tapi tentang tabungan dan itinerary ke Makkah.
Mereka mulai riset tentang agen travel, belajar manasik dari YouTube, sampai diskusi tentang jual visa umroh mandiri biar bisa lebih hemat dan fleksibel.

Rencana mereka viral di antara teman-teman kampus. Banyak yang awalnya menyepelekan, tapi kemudian ikut tertarik.
“Kalau kalian beneran berangkat, gue ikut!” kata Adit, teman lama yang dulu paling skeptis soal agama.

Perlahan, semangat itu menular.
Dari lima orang, kini komunitas kecil itu tumbuh jadi 20-an anak muda yang niatnya sama: menjemput panggilan Allah سبحانه وتعالى dengan cara yang sesuai zamannya.

Bab 3: Dari Kafe ke Ka’bah

Setelah berbulan-bulan menabung, hari keberangkatan pun tiba.
Tak ada yang menyangka, geng yang dulu suka nongkrong sampai larut malam kini berdiri di Bandara Soekarno-Hatta, mengenakan ihram putih dan wajah penuh haru.

“Bro, ini beneran ya kita mau ke Makkah?” bisik Rey, suaranya gemetar.
Naufal menepuk bahunya. “Iya, bro. Ini bukan mimpi. Kita beneran dipanggil.”

Sesampainya di Makkah, mereka semua terdiam. Saat melihat Ka’bah untuk pertama kali, tak ada tawa, tak ada canda. Hanya air mata.
Bahkan Rey, si paling cuek, menangis terisak sambil berdoa,
“Ya Allah, makasih udah kasih gue kesempatan datang ke rumah-Mu…”

Bab 4: Ibadah yang Mengubah Segalanya

Hari-hari di Tanah Suci menjadi perjalanan jiwa yang luar biasa.
Mereka saling mengingatkan waktu shalat, berbagi air zamzam, hingga mendoakan satu sama lain di depan Multazam.

Hana menulis di jurnalnya setiap malam.
“Dulu aku pikir hijrah itu berat. Tapi ternyata yang berat itu menunda-nunda panggilan Allah سبحانه وتعالى.”

Naufal yang dulunya keras kepala, kini lebih lembut. Rey yang biasa sinis, kini jadi imam shalat di hotel.
Dan setiap kali selesai tawaf, mereka saling tersenyum tanpa kata. Karena semua tahu — hidup mereka tidak akan sama lagi setelah ini.

Bab 5: Dakwah Ala Gen Z

Sepulang dari Makkah, komunitas mereka semakin solid.
Mereka mulai membuat konten tentang perjalanan spiritual, tapi bukan dengan gaya kaku.
Lewat video pendek, mereka berbagi kisah sederhana — dari niat awal, proses menabung, sampai pengalaman lucu saat manasik.

Konten mereka viral. Banyak anak muda lain yang akhirnya ikut tertarik.
“Gila, ternyata umroh bisa semudah itu asal niat,” tulis salah satu komentar.

Mereka pun mulai mengadakan kelas online kecil-kecilan, membantu teman-teman lain paham tentang jual visa umroh mandiri, tips memilih travel terpercaya, dan cara menabung tanpa beban.

Dakwah mereka ringan tapi bermakna. Karena mereka tahu, tidak semua orang bisa langsung berubah — tapi setiap orang bisa mulai dari langkah kecil.

Bab 6: Umroh, Bukan Akhir Tapi Awal

Bagi “Geng Hijrah”, perjalanan ke Tanah Suci bukan penutup cerita, tapi pembuka bab baru.
Kini mereka rutin kajian bareng, bikin agenda sosial, bahkan merencanakan program umroh untuk anak muda yang belum mampu secara finansial.

“Aku pengen bantu orang lain ngerasain apa yang aku rasain di depan Ka’bah,” kata Hana sambil menatap langit malam.
Naufal mengangguk, “Kita nggak cuma pulang bawa oleh-oleh, tapi bawa tanggung jawab.”

Dan malam itu, mereka sadar — ibadah bukan soal sekali seumur hidup, tapi soal bagaimana setiap hari jadi lebih dekat kepada Allah سبحانه وتعالى.

Bab 7: Penutup — Generasi Baru, Ibadah Baru

Generasi Z kini bukan lagi generasi yang hanya sibuk dengan dunia digital.
Mereka belajar bahwa ibadah dan gaya hidup modern bisa berjalan beriringan.
Bahwa healing terbaik bukan di pantai Bali, tapi di pelataran Ka’bah.

Jadi, kalau kamu termasuk yang mulai merasa “ada yang kosong di hati”, mungkin ini saatnya memikirkan langkah pertama.
Mulailah dari hal kecil — cari tahu dulu biaya umroh, buat rencana sederhana, lalu tetapkan niat.

Dan kalau kamu ingin berangkat dengan cara yang lebih mandiri, fleksibel, dan digital, kamu bisa coba opsi jual visa umroh mandiri yang kini makin populer di kalangan Gen Z.

Karena hijrah itu bukan soal meninggalkan dunia, tapi soal menemukan cahaya di tengahnya.
Dan siapa tahu — perjalananmu berikutnya bukan lagi ke kafe, tapi ke Baitullah. 🤍

Leave a comment